SEJALAN SEWAJARNYA — Rumah yang Runtuh di Siang Hari




"Tidak semua rumah adalah tempat untuk pulang."
"Tidak semua yang terlihat utuh… benar-benar tidak retak."

Tulisan ini bukan sekadar cerita.
Ini adalah potongan dari sesuatu yang pernah terjadi—tentang bagaimana sebuah rumah bisa tetap berdiri, tapi perlahan kehilangan maknanya.


Di sebuah kota yang terlihat indah dari kejauhan, hiduplah seorang perempuan bernama Hyuna.

Ia dikenal sebagai sosok yang manis, cantik, dan berprestasi. Senyumnya mudah muncul, tawanya ringan terdengar. Dari luar, hidupnya tampak baik-baik saja.

Padahal, tidak semua yang terlihat baik-baik saja… benar-benar tidak menyimpan luka.

Hyuna adalah anak keempat dari enam bersaudara.
Sejak kecil, ia sudah belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan di sekolah—

bahwa rumah bisa menjadi tempat paling berisik, paling menakutkan, dan paling melelahkan dalam hidup seseorang.

Siang itu, saat Hyuna masih duduk di bangku sekolah dasar, semuanya dimulai.

Ia masih terlalu kecil untuk memahami arti sebuah hubungan, tapi cukup besar untuk merasakan ketakutan.

Siang itu seharusnya biasa saja.
Namun yang ia lihat… adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan.

Suara bentakan memecah udara.
Piring pecah.
Pintu dibanting keras sampai dinding bergetar.

Kata-kata kasar saling dilempar, seolah tidak ada lagi yang perlu dijaga.

Hyuna kecil berdiri diam di sudut ruangan.

Seragam sekolahnya masih tergantung rapi di kursi.
Buku-bukunya belum sempat disentuh.

Kakinya terasa berat.
Tangannya dingin.
Napasnya pendek-pendek.

Ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi…
tapi ia tahu satu hal—

sesuatu sedang hancur, dan ia tidak bisa menghentikannya.

“Surat pisah.”

Kata itu terdengar jelas.
Seperti sesuatu yang jatuh… tepat di dalam dadanya.

Sebelum ia bisa memahami lebih jauh, kakak dan abangnya menariknya masuk ke kamar. Adiknya sudah menangis lebih dulu.

Pintu ditutup rapat.

Tapi suara itu tidak berhenti.
Selalu masuk.
Selalu terdengar.

Di dalam kamar kecil itu, mereka saling mendekat.
Tidak ada yang bicara.
Tidak ada yang benar-benar menenangkan.

Hyuna tidak menangis keras.
Ia hanya diam.

Matanya kosong, menatap ke arah pintu—
seolah berharap semuanya tiba-tiba berhenti.

Siang itu, Hyuna tidak hanya merasa takut.

Ia kehilangan sesuatu.

Rasa aman.

Dan sejak hari itu…
ia tidak pernah benar-benar mendapatkannya kembali.


Hari-hari setelahnya terasa seperti hidup di rumah orang lain.

Ibunya pergi ke kampung halamannya, bersama kakak dan abangnya.
Rumah itu tiba-tiba terasa terlalu luas.
Terlalu sunyi.

Yang tersisa hanya Hyuna, adiknya, dan ayah mereka.

Kadang ibunya datang.
Tapi tidak pernah lama.
Kadang hanya lewat pesan dari tetangga.

Rindu menjadi sesuatu yang harus dipendam.
Harapan menjadi sesuatu yang perlahan dihilangkan.

Hyuna mulai belajar… bagaimana caranya tidak terlalu berharap.


Beberapa bulan kemudian, seorang wanita datang.

Ia dipanggil “Bunda Melati.”
Datang bersama tiga anaknya, masuk ke dalam kehidupan Hyuna seolah semuanya normal.

Mereka bermain bersama.
Tertawa bersama.

Seolah tidak ada yang salah.

Hingga suatu hari, semuanya berhenti berpura-pura.

Ibunya datang.

Tidak ada teriakan.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada amarah.

Justru itu yang terasa paling menakutkan.

Hyuna berdiri di samping ibunya.
Diam. Mengamati.

“Kalau kamu mau sama papa… ambil saja.”

Suara itu datar. Tidak bergetar. Tidak marah.

“Sekalian aku nikahkan.”

Tidak ada yang lebih dingin dari kalimat itu.

Dan jawaban yang datang—

“Aku akan pergi. Aku nggak akan ganggu lagi.”

Tidak ada yang menang hari itu.
Tidak ada yang benar-benar kalah.

Yang ada hanya orang-orang yang sama-sama lelah…
dan sama-sama kehilangan sesuatu.


Setelah kejadian itu, orang tua Hyuna tidak benar-benar berpisah.

Mereka tetap bersama.

Namun sesuatu di antara mereka…
tidak pernah kembali utuh.

Sebelum pergi, ibunya memeluk Hyuna.

“Jaga diri baik-baik.”

Kalimat sederhana.

Tapi terasa seperti… perpisahan yang tidak pernah benar-benar selesai.


Waktu berjalan.

Hyuna tumbuh.

Dan tanpa ia sadari, sejak siang itu—
ia sudah belajar satu hal penting:

bagaimana bertahan…
bahkan ketika tidak ada tempat untuk pulang.


Catatan kecil:

Tidak semua orang yang terlihat baik-baik saja… benar-benar baik-baik saja.
Dan tidak semua luka… bisa terlihat dari luar.

Jika kamu pernah merasa seperti itu—
kamu tidak sendirian.


Komentar

  1. Keren bngt
    Mengandung bawang 🥹

    BalasHapus
    Balasan
    1. jika nanti mengikuti lanjutan ceritanya, mungkin kamu akan menangis

      Hapus
  2. menyentuh sekali ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. jika anda mengikuti perjalanan cerita ini, mungkin anda bisa masuk kedalam ceritanya.

      Hapus
  3. Keep strong Cen😘 i know u can 🥰

    BalasHapus
    Balasan
    1. because i can that’s why i’m strong🫶🏻

      Hapus
  4. Di Setiap Kata Mempunyai Arti
    Dalam Satu Kalimat Mengandung Makna

    BalasHapus
    Balasan
    1. ternyata sudah masuk kedalam cerita Hyuna ya, walau baru awal👍🏻

      Hapus

Posting Komentar