MASA LALU - Chapter 2 : Rumah yang Tidak Pernah Kembali Sama
Tidak semua yang kembali… benar-benar kembali.
Kadang, yang pulang hanya bentuknya—bukan rasanya.
Setelah hari itu, tidak ada yang benar-benar sama.
Rumah itu masih berdiri.
Orang-orangnya masih ada.
Aktivitas berjalan seperti biasa.
Tapi ada sesuatu yang berubah—
dan tidak pernah kembali.
Hyuna mulai merasakan hal yang tidak bisa ia jelaskan.
Bukan takut seperti sebelumnya.
Bukan juga sedih yang jelas bentuknya.
Lebih seperti… kosong.
Seperti ada ruang di dalam dirinya yang tiba-tiba hilang,
dan ia tidak tahu bagaimana cara mengisinya kembali.
Hari-hari berjalan pelan.
Ibunya pergi ke kampung halamannya.
Meninggalkan rumah yang dulu terasa penuh,
menjadi tempat yang terasa asing.
Hyuna tidak benar-benar mengerti kenapa.
Ia tidak bertanya.
Tidak juga menangis seperti adiknya.
Ia hanya diam.
Mengamati.
Menerima… tanpa benar-benar memahami.
Sesekali, ibunya datang.
Muncul di depan rumah seperti seseorang yang hanya sedang berkunjung.
Bukan pulang.
Bukan tinggal.
Hanya… lewat.
Hyuna tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Rindu terasa aneh.
Dekat, tapi jauh.
Ada, tapi tidak bisa digenggam.
Dan perlahan, tanpa ia sadari—
ia mulai belajar satu hal baru:
bagaimana caranya merindukan… tanpa berharap.
Di dalam rumah itu, semuanya tetap berjalan.
Makan bersama.
Duduk bersama.
Hidup bersama.
Tapi tidak ada yang benar-benar berbicara tentang apa yang terjadi.
Seolah-olah diam adalah cara terbaik untuk bertahan.
Seolah-olah kalau tidak dibahas,
semuanya akan baik-baik saja.
Padahal tidak.
Hyuna mulai terbiasa dengan sunyi.
Bukan sunyi tanpa suara—
tapi sunyi yang terasa di dalam.
Ia masih tertawa.
Masih bermain.
Masih menjalani hari seperti anak-anak lain.
Tapi ada bagian dari dirinya yang mulai berbeda.
Lebih diam.
Lebih jauh.
Lebih berhati-hati.
Di usianya yang masih terlalu kecil,
Hyuna sudah belajar untuk tidak terlalu berharap.
Karena ia tahu—
tidak semua yang ada… akan tetap ada.
Waktu terus berjalan.
Dan tanpa ia sadari,
ia tidak hanya tumbuh menjadi lebih besar.
Ia juga tumbuh menjadi seseorang yang…
perlahan mulai terbiasa kehilangan.
Catatan kecil:
Tidak semua kehilangan datang dengan perpisahan.
Kadang, kehilangan terjadi…
saat semuanya masih terlihat utuh.
Komentar
Posting Komentar