CHAPTER CHARACTERS — Orang-Orang di Sekitar Hyuna, VER HYUNA


Tidak semua orang datang untuk tinggal.

Beberapa hanya lewat—
tapi meninggalkan sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang.


Darsai

Darsai adalah tipe orang yang… sulit dijelaskan.

Ia orang Jepang.
Manis.
Dan ya—ganteng.

Tapi bukan itu yang bikin dia berbeda.


Sikapnya cenderung dingin,
tapi santai.

Tegas,
tapi tidak kaku.

Kadang humoris,
dengan tingkah kecil yang tanpa sadar bisa bikin orang ketawa.


Senyumnya hangat.

Matanya…
sendu, tapi indah.


Darsai itu komunikatif.
Pendengar yang baik.
Cukup cerdas untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Cara berpikirnya luas.
Dewasa.

Dan kadang—
terlalu masuk akal.


Ia juga punya rasa ingin tahu yang tinggi.
Suka membantu orang lain.
Pekerja keras.

Dan… sedikit manja.

(dan mungkin bagian itu yang paling tidak ia sadari)


Tapi Darsai juga manusia.

Ia bisa plin-plan.
Mudah bosan.
Sulit mengambil keputusan.

Dan kadang…
kurang peka.

(setidaknya, itu yang Hyuna rasakan)


Darsai suka anime.
Komik juga.

Tapi hanya yang menurutnya menarik.


Dan entah kenapa—
tanpa pernah benar-benar dekat,

Hyuna selalu merasa…
Darsai tidak pernah benar-benar jauh.


“I’m always here, watching you from afar.
Because I want to see you win.”


Felix

Felix datang dengan energi yang berbeda.

Ia berasal dari Amerika.
Berpenampilan tenang.
Dengan aura yang tidak banyak bicara—tapi terasa.


Kulitnya sawo matang.
Tattoo di beberapa bagian tubuhnya
seolah punya cerita sendiri.


Sikapnya dingin.

Tapi tingkahnya… kadang kocak.


Felix suka bercanda—
tapi dengan cara mengejek.

Dan anehnya,
itu justru jadi ciri khasnya.


Ia tahu banyak hal.

Tapi memilih diam.


Felix adalah tipe “penyimpan rahasia”.


Peduli.
Protektif.
Tidak suka hal-hal yang terlalu dramatis.


Kalau sudah sayang—
ia akan ada di garis depan.

Tanpa banyak bicara.


Tapi di balik itu semua—

Felix juga punya kekurangan.


Ia sulit mengatur waktu.
Terlalu memaksakan diri dalam pekerjaan.


Dan sering lupa—
bahwa hidupnya sendiri juga perlu dijalani.


“You have to be able to make time for your own life.”


Kessy

Kessy adalah… kebalikan dari tenang.


Ia berasal dari Australia.
Enerjik.
Cerah.
Dan hampir tidak pernah kehabisan energi.


Cantik.
Mudah bergaul.
Dan selalu punya cara untuk masuk ke dalam percakapan—tanpa terasa.


Cara bicaranya to the point.
Ceplas-ceplos.

Kadang dewasa.
Kadang… seperti anak kecil.


Kessy itu pekerja keras.

Penyayang.
Dan selalu siap membantu.


Tapi di balik semua itu—


Ia juga cengeng.

Sering bertindak sebelum berpikir.

Dan… ya,
si paling ngajak ke mana-mana.


Tapi satu hal yang pasti—

Kessy itu kuat.

Dengan caranya sendiri.


Dan mungkin…
lebih kuat dari yang ia tunjukkan.


“Semangat terus, Kessy.
We always love and support you.”


Orla

Orla adalah pasangan Felix.

Dan mungkin—
satu-satunya orang yang bisa mengimbangi Felix.


Ia juga berasal dari Amerika.

Cantik.
Lugu.
Dengan cara bicara yang khas.


Tingkahnya sering lucu—
tanpa ia sadari.


Orla itu penyayang.
Pekerja keras.
Dan selalu ada untuk orang lain.


Kadang dewasa.
Kadang juga masih seperti anak kecil.


Tapi jangan salah—


Ia keras kepala.

Kalau sudah mau sesuatu—
harus terjadi.


Tipe yang “gas” ke mana saja.

Dan sering terlalu memikirkan orang lain
sampai lupa dirinya sendiri.


Kalau sudah jatuh cinta—

bisa jadi “gila” dengan caranya sendiri.


“You’re the best.
We always love and support you.”


Ambra

Ambra adalah tempat Hyuna kembali—
tanpa harus menjelaskan terlalu banyak.


Ia bukan tipe yang banyak bicara.

Tapi selalu tahu kapan harus ada.


Ambra tidak selalu memberi solusi.

Tapi kehadirannya… cukup.


Kadang terdengar cuek.

Kadang seperti tidak peduli.


Tapi justru di situ—
caranya menjaga.


Ia tidak menghakimi.
Tidak memaksa.


Hanya mengingatkan—
dengan cara yang sederhana.


Dan di saat Hyuna mulai terlalu jauh dalam pikirannya—

Ambra selalu menariknya kembali.


Pelan.


Seolah berkata:

“udah… jangan terlalu dalam.”


Basilio

Basilio adalah seseorang
yang pernah membuat Hyuna percaya lagi.


Ia datang dengan cara yang tenang.

Lembut.
Perhatian.

Dan selalu mengutamakan Hyuna.


Bersamanya—
semuanya terasa ringan.


Tidak terburu-buru.
Tidak berisik.


Seperti sesuatu yang dijaga—
agar tidak rusak lagi.


Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama—
Hyuna percaya.


Bahwa mungkin…
kali ini akan berbeda.


Tapi pada akhirnya—

tidak semua yang terlihat baik-baik saja
benar-benar akan sampai.


Dan Basilio…

menjadi salah satu hal
yang tidak pernah benar-benar selesai.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MASA LALU - Chapter 1 : Rumah yang Runtuh di Siang Hari

MASA LALU - Chapter 3 - Tempat untuk Bernapas

MASA LALU - Chapter 2 : Rumah yang Tidak Pernah Kembali Sama