YANG TIDAK SEPENUHNYA - CHAPTER 2 - Tentang Pertemuan yang Terlambat

 


Tidak semua yang akhirnya terjadi…
datang di waktu yang tepat.


Beberapa tetap datang—
meskipun sudah terlambat.


Hari itu akhirnya datang.


Hyuna bahkan tidak ingat
hari apa.
atau tanggal berapa.


Tapi Hyuna tetap datang.


Dari apartemen,
Hyuna berjalan menuju tempat yang sudah ditentukan.


Dan di sana—
untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
Hyuna kembali bertemu Darsai.


Tidak banyak yang berubah.


Tapi tetap terasa berbeda.


Darsai terlihat lebih berisi.
Pipinya lebih chubby.


Tapi senyumnya—
masih sama.


Manis.


Dan entah kenapa…
tetap terasa familiar.


Mereka bertemu di pinggir jalan.


Sapaan sederhana.


Tidak canggung.
Tidak juga terlalu dekat.


Seperti dua orang
yang pernah saling kenal—
tapi tidak pernah benar-benar selesai.


Mereka memutuskan untuk menunggu
di sebuah kedai minuman dan es krim.


Berjalan kaki bersama.


Pelan.


Tanpa banyak bicara di awal.


Sesampainya di sana,
mereka langsung memesan.


Hyuna memilih es krim matcha.
Darsai memilih minuman.


Mereka bahkan tidak tahu rasanya akan seperti apa.


Dan ketika mencobanya—
mereka hanya tertawa kecil.


Untungnya… enak.


Percakapan mulai berjalan.


Tentang kabar.
Tentang kehidupan masing-masing.
Tentang hal-hal yang sempat terlewat.


Darsai lebih banyak bertanya.


Hyuna lebih banyak bercerita.


Dan di antara semua itu—
tidak ada yang benar-benar menyentuh perasaan.


Seolah semuanya…
baik-baik saja.


Sampai akhirnya—
Felix datang.


Energinya berbeda.


Lebih tenang.
Lebih santai.


Obrolan mulai terasa lebih hidup.


Namun masih ada satu yang belum datang.


Kessy.


Seperti biasanya—
ngaret.


Hyuna sudah mengabari.


Dan alasannya…
tidak jauh berbeda dari yang bisa ditebak.


Sedang makan.
Dengan pacarnya.


Hyuna hanya menarik napas kecil.


Tidak heran.


Waktu terus berjalan.


Dan akhirnya—
Kessy datang.


Dengan energi yang sama seperti dulu.


Langsung masuk ke percakapan.
Langsung mengisi suasana.


Dan untuk sesaat—
semuanya terasa seperti dulu.


Mereka berbincang.


Tentang pekerjaan.
Tentang kehidupan masing-masing.
Tentang bagaimana waktu mengubah banyak hal.


Dan tanpa sadar—
mereka tertawa.


Cukup lama.


Cukup lepas.


Seolah tidak ada yang berat.


Seolah semuanya benar-benar baik-baik saja.


Sampai Hyuna melihat waktu.


Sudah terlalu malam.


Jam 2 pagi.


Dan tiba-tiba—
malam terasa berbeda.


Lebih sepi.
Lebih dingin.


Hyuna memutuskan untuk pulang.


Bukan hanya karena perjalanan yang jauh.


Tapi karena…
Hyuna tahu harus berhenti di titik itu.


Hyuna pamit.


Satu per satu.


Tidak ada yang menahan.


Tidak ada yang meminta untuk tinggal lebih lama.


Dan mungkin…
itu yang paling terasa.


Sesampainya di apartemen,
Hyuna mengirim pesan.


Mengucapkan terima kasih.


Untuk waktu yang sudah diluangkan.


Untuk pertemuan yang akhirnya terjadi.


Dan untuk sesuatu yang…
tidak bisa dijelaskan.


Setelah itu—
hari kembali berjalan seperti biasa.


Tidak ada yang berubah.


Atau mungkin…
Hyuna hanya berpura-pura begitu.


Karena pada akhirnya—
tidak semua pertemuan datang untuk memulai sesuatu.


Beberapa hanya datang…
untuk mengingatkan.


Bahwa ada rasa yang pernah ada—
dan belum sepenuhnya hilang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MASA LALU - Chapter 1 : Rumah yang Runtuh di Siang Hari

MASA LALU - Chapter 3 - Tempat untuk Bernapas

MASA LALU - Chapter 2 : Rumah yang Tidak Pernah Kembali Sama