YANG TIDAK SEPENUHNYA — CHAPTER 3 - Tentang Malam yang Tidak Nyaman
Tidak semua rasa tidak nyaman…
datang tanpa alasan.
Kadang—
itu cara diri sendiri memberi tanda.
Seiring berjalannya waktu,
hari-hari Hyuna kembali berjalan seperti biasa.
Tenang.
Datar.
Dan… bisa ditebak.
Sampai akhirnya,
Hyuna sempat dekat dengan seseorang.
Namanya Redo.
Tidak ada yang terlalu spesial di awal.
Hanya percakapan ringan.
Obrolan yang berjalan.
Sampai akhirnya—
mereka sepakat untuk bertemu.
7 Juni.
Hyuna datang lebih dulu
ke sebuah coffee shop.
Duduk sendiri.
Menunggu.
Waktu berjalan.
Pesan masuk.
Redo belum datang.
Alasannya sederhana.
Ada teman kantornya di tempat yang sama.
Dan entah kenapa—
Hyuna mulai merasa tidak nyaman.
Bukan karena menunggu.
Tapi karena…
sesuatu terasa tidak tepat.
Perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Sedikit aneh.
Sedikit mengganggu.
Sedikit… menahan.
Hyuna mencoba menghubungi seseorang.
Sekou.
Tapi malam itu—
ia sedang bekerja.
Tidak bisa datang.
Dan untuk beberapa saat,
Hyuna benar-benar sendirian.
Bingung.
Diam.
Dan mulai merasa tidak aman.
Sampai satu nama muncul di pikirannya.
Darsai.
Tanpa berpikir panjang,
Hyuna langsung menghubunginya.
Menanyakan satu hal sederhana—
“lagi di mana?”
Hyuna menjelaskan semuanya.
Tentang Redo.
Tentang perasaan tidak enak itu.
Darsai tidak langsung datang.
Ia berpikir sejenak.
Lalu memberi satu pilihan.
Pindah tempat.
Lebih ramai.
Lebih terbuka.
Food court.
Dengan minimarket.
Hyuna setuju.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
ia merasa sedikit lebih tenang.
Darsai sudah sampai lebih dulu.
Hyuna menyusul.
Mereka duduk.
Dan Hyuna mulai bercerita.
Tentang rasa tidak nyaman itu.
Tentang firasat yang tidak jelas.
Darsai mendengarkan.
Lalu berkata pelan—
untuk lebih hati-hati.
Tidak panjang.
Tidak menghakimi.
Tapi cukup.
Hyuna hanya mengangguk.
Sementara itu—
Redo masih belum datang.
Alasannya terus berubah.
Tarik tunai.
Banyak orang.
Ada teman kantor.
Tidak enak.
Satu per satu.
Dan semakin lama—
semakin tidak masuk akal.
Hyuna membaca setiap pesan itu.
Lalu menunjukkannya ke Darsai.
Dan di titik itu—
mereka sama-sama tahu.
Ini tidak benar.
Akhirnya,
Hyuna mengetik satu kalimat.
“tidak perlu datang,
kapan-kapan saja kita bertemu.
terima kasih.”
Dikirim.
Dan selesai.
Tidak ada penjelasan panjang.
Tidak ada kesempatan kedua.
Karena kali ini—
Hyuna memilih berhenti lebih dulu.
Di luar,
hujan mulai turun.
Rintik.
Pelan.
Dingin.
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Tapi anehnya—
tidak lagi menakutkan.
Mereka hanya duduk.
Berbincang ringan.
Tertawa sesekali.
Hyuna sempat bercerita—
tentang kisahnya yang sebelumnya.
Darsai mendengarkan.
Namun sesekali,
perhatiannya teralihkan.
Ke layar ponsel di tangannya.
Hyuna menyadari itu.
Dan tanpa berpikir panjang,
ia berkata—
“lagi ngobrol… tapi kamu sibuk sendiri.”
Darsai menjawab singkat—
“bentar… ini ada sesuatu.”
Hyuna hanya diam.
“hmm… ok.”
Tidak marah.
Tapi cukup
untuk mengubah suasana.
Karena bagi Hyuna—
hadir itu penting.
Bukan hanya ada.
Tapi benar-benar ada.
Dan ketika itu tidak terasa—
Hyuna memilih diam.
Mengalihkan perhatiannya.
Melihat sekitar.
Sampai akhirnya—
sesuatu menarik perhatiannya.
Seekor kucing.
Putih.
Dengan corak hitam.
Kecil.
Lucu.
Memakai kalung kecil dengan lonceng.
Dan baju.
Dengan nama yang tertulis jelas—
Sevel.
Hyuna meminta izin kepada pemiliknya.
Lalu menggendongnya.
Meletakkannya di meja.
Dan untuk beberapa saat—
semuanya terasa ringan.
Hyuna bermain.
Berfoto.
Merekam video.
Dan Darsai…
ikut tersenyum.
Ikut bermain.
Seolah tidak ada yang berat malam itu.
Tidak lama.
Pemiliknya pamit.
Kucing itu dibawa pulang.
Dan Hyuna hanya bisa tersenyum kecil.
Sederhana.
Tapi cukup
untuk mengubah suasana.
Setelah itu,
mereka kembali berbincang.
Tentang hal-hal ringan.
Sampai waktu kembali berjalan.
Dan malam semakin larut.
Hujan belum berhenti.
Hyuna melihat waktu.
Pagi menunggu.
Dan realita…
tetap harus dijalani.
“udah yuk… pulang.”
Mereka berdiri.
Berpisah.
Dan kembali ke tempat masing-masing.
Seperti biasa.
Tapi tidak sepenuhnya sama.
Karena malam itu—
Hyuna belajar satu hal.
Bahwa tidak semua yang datang
layak untuk ditunggu.
Dan tidak semua yang terasa
perlu untuk dipaksakan.
Komentar
Posting Komentar