FINAL CHAPTER YANG TIDAK SEPENUHNYA — Tentang Hal yang Terlalu Banyak Sekaligus
Seiring berjalannya waktu—
Hyuna semakin sering berkomunikasi dengan Papa-nya.
Bukan untuk bercerita.
Tapi untuk mengurus sesuatu
yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Surat-surat.
Dokumen.
Hal-hal yang harus diselesaikan
setelah kepergian.
Dan di tengah semua itu—
mereka mulai berbeda.
Pendapat.
Cara berpikir.
Cara menyelesaikan sesuatu.
Papa Hyuna ingin menjalankan plan A.
Hyuna tidak setuju.
Hyuna menyarankan plan B.
Menurutnya—itu lebih baik.
Tapi Papa tetap memilih plan A.
Dan untuk pertama kalinya—
Hyuna tidak melawan.
Bukan karena setuju.
Tapi karena…
ia tahu.
Papa-nya sedang hancur.
Kehilangan seseorang
yang tidak bisa ia lihat untuk terakhir kali.
Tidak bisa dipeluk.
Tidak bisa dilepas.
Bahkan untuk abunya sekalipun.
Dan mungkin…
itu lebih menyakitkan
daripada yang Hyuna rasakan.
Jadi Hyuna diam.
Mengalah.
Mengikuti.
Walaupun tidak sepenuhnya menerima.
Waktu berjalan.
Pelan.
Hampir satu bulan
sejak kepergian itu.
Dan Hyuna pikir—
tidak akan ada lagi kabar buruk setelah ini.
Ternyata…
ia salah.
20 Agustus.
Kabar itu datang.
Dari Mama-nya.
Tentang seseorang—
yang seharusnya tidak ada di sana.
Astrid.
Seorang perempuan
yang pernah menjadi bagian dari cerita lama.
Dan seseorang lagi—
yang bahkan tidak Hyuna kenal.
Mereka datang ke rumah.
Rumah Hyuna.
Di sana—
ada adik-adiknya.
Termasuk yang paling kecil.
Mereka melihat semuanya.
Mereka tidak suka.
Dan mereka langsung memberi tahu Mama.
Hyuna mendengar itu.
Dan sesuatu di dalam dirinya—
perlahan runtuh.
Bukan karena kaget.
Tapi karena…
ia sudah tahu ini akan terjadi.
Astrid.
Nama itu bukan asing.
Ia pernah dengar sebelumnya.
Tentang bagaimana perempuan itu
mengaku mengenal kakek dan neneknya.
Tentang mimpi.
Tentang pesan—
“tolong jaga Papa Hyuna.”
Dan saat pertama kali mendengar itu—
Hyuna hanya bisa berpikir satu hal.
what the hell…
who the hell are you?
Ia tidak pernah bertemu kakeknya.
Kakeknya sudah lama meninggal—
saat Hyuna masih kecil.
Dan entah bagaimana—
perempuan itu merasa punya tempat.
Tidak masuk akal.
Tidak pernah masuk akal.
Dan sekarang—
ia datang ke rumah.
Rumah itu.
Saat Hyuna mendengar semuanya—
emosinya tidak bisa ditahan lagi.
Tanpa berpikir panjang—
ia langsung menelpon Papa-nya.
Tidak diangkat.
Hyuna langsung mengetik.
Hyuna:
“Hyuna denger Astrid itu ke rumah, Pa… maksudnya apa ya?”
Papa:
“itu lagi urusan sama orang, Hyun. kumpul tadi… urusan tanah.”
Hyuna:
“gausah bertele-tele, yang bener, Pa.”
Papa:
“benerlah… urusan sertifikat sama pemilik tanah.”
Hyuna:
“alah… ngapain ada Astrid itu?”
Papa:
“ya notarisnya.”
Hyuna:
“kayak ga ada notaris lain aja. ngapain sama Astrid—selingkuhan Papa. ew.”
Papa:
“ya memang notaris. orang yang punya tanah juga minta diurus sama dia.”
Hyuna:
“urus tanah siapa?”
Papa:
“orang Silver Lake Blvd.”
Hyuna:
“alah… alibi”
Papa:
“ya biar aja orang minta ketemuan dirumah tadi, ya Papa bilang, ya udah ketemu aja”
Hyuna:
“ngapain dirumah kita ? kaya yang punya tanah gak punya rumah aja, atau ketemuan di coffee shop gitu ? Hyuna ga sudi ya Pa”
Papa:
“orang pemilik minta ketemuan dirumah, ya udah.”
Hyuna:
“udah lah… semua alasan Papa ga masuk akal menurut Hyuna.”
“jangan anggap Hyuna anak Papa lagi.”
“dan Hyuna juga ga mau anggap Papa itu Papa Hyuna.”
“Hyuna block semua akses Papa.”
Hening.
Balasan datang.
Singkat.
Dingin.
“ya udah terserah.”
Dan di detik itu—
sesuatu benar-benar patah.
Bukan hubungan.
Tapi…
perasaan.
Hyuna terdiam.
Tangannya gemetar.
Air mata jatuh.
Pelan.
Tanpa suara.
Dadanya sesak.
Lebih dari sebelumnya.
Lebih dari kehilangan.
Lebih dari semuanya.
Dengan sisa tenaga yang ada—
Hyuna membalas.
“OK.”
Singkat.
Tapi cukup
untuk mengakhiri semuanya.
Satu per satu—
akses itu ditutup.
Nomor diblokir.
Kontak dihapus.
Tidak ada jalan kembali.
Dan untuk pertama kalinya—
Hyuna tidak hanya kehilangan seseorang.
Tapi juga…
memilih untuk melepaskan.
Tidak semua hubungan hancur karena pergi.
Beberapa…
hancur karena tetap tinggal,
tapi tidak lagi terasa sama.
Dan kali ini—
Hyuna tidak ditinggalkan.
Ia yang memilih pergi.
Karena pada akhirnya—
tidak semua yang disebut “rumah”
masih layak untuk kembali.
Dan sejak saat itu—
Hyuna tidak lagi menunggu untuk dipahami.
Ia hanya berhenti.
Pelan.
Dan untuk pertama kalinya—
ia memilih dirinya sendiri.
🖤
Catatan untuk Papa,
Hyuna sebenarnya malas menulis bagian ini.
Bukan karena tidak penting—
tapi karena Hyuna harus memaksa diri
untuk masuk lagi ke situasi itu.
Dibaca berulang saja… sudah cukup
untuk membuat Hyuna menangis.
Padahal awalnya cuma mau koreksi bahasa.
Hyuna hanya ingin Papa tahu satu hal—
Hyuna masih bisa mantau Papa,
walaupun dari jauh.
Tidak seperti dulu.
Tidak lagi dengan cara yang sama.
Tapi… Hyuna tetap melihat.
Dan mungkin, untuk sekarang,
itu sudah cukup.
(terimakasih banyak, mas Dwi)
Komentar
Posting Komentar